Text
Namaku Hiroko
erita Hiroko berlangsung pada masa pasca perang dunia ke-2. Suatu masa dimana kehidupan penduduk Jepang berada di persimpangan. Corak kehidupan Jepang tradisional berhadapan dengan datangnya gelombang gaya hidup urban masyarakat perkotaan yang semarak. Pada masa itu, Jepang bisa dikatakan berada dalam periode dilematis. Masyarakat Jepang di kota-kota besar mengalami pertentangan nilai. Antara mengimbangi kemajuan atas nama pengaruh budaya Barat atau mempertahankan nilai-nilai dan estetika kehidupan tradisional. Sedangkan, masyarakat tradisional Jepang masih memegang erat budaya turun temurun peninggalan nenek moyang mereka.rnrnLika-liku kehidupan mengantarkan Hiroko pada berbagai pengalaman yang kelak akan berguna pada kehidupannya di masa mendatang. Memulai perjuangan hidup sejak menjadi pembantu di rumah seorang konsul, Hiroko belajar melihat dunia. Dunia seakan membentang dihadapannya. Hiroko belajar memahaminya satu persatu. Tak lama, Hiroko harus kembali ke desa karena Neneknya meninggal.rnrnHiroko kembali merasakan semarak gairah kehidupan kota besar setelah bertemu dengan Tomiko. Teman sekolahnya dahulu yang membawanya ke kota. Hiroko memulai kembali perjalanan karirnya menjadi seorang pembantu. Setelah jenuh, ia mendapatkan pekerjaan di toko besar. Katakanlah sebuah mall. Dengan pekerjaannya itu, Hiroko mendapatkan segala pelajaran yang mengajarinya tanpa diminta. Kejadian demi kejadian datang menghampirinya. Hiroko mengisi waktu luangnya dengan bekerja menjadi seorang penari telanjang di kabaret lokal. Sementara, Nakajima-san (yang ternyata nama depannya sama: Hiroko). Hiroko pun tahu rasanya jatuh cinta pada suami sahabatnya sendiri. Suatu rasa yang kelak ia sesali ketika kekasihnya itu tidak muncul karena istrinya, Natsuko, mencoba bunuh diri.rnrnBuat saya, Hiroko ini ibarat hidup di atas angin. Hiroko tidak pernah “ngeyel” mengharapakan sesuatu untuk terjadi padanya. Memang, Hiroko menghendaki kekayaan dan kemapanan sebagai atribut hidupnya. Identitas tanda keberhasilan hidup di kota. Tetapi, perlu dicatat, Hiroko tidak pernah mengusahakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Kesempatan dan kesempatan menghampirinya tanpa bisa dibendung. Demi hasrat keinginannya, Hiroko pun tak kuasa menahan segala rasa untuk menjalaninya. Seperti dapat dibaca di akhir cerita, Hiroko telah mendapatkan arti “paripurna” sebagai seorang perempuan. Walau harus hidup sebagai istri simpanan Yoshida, suami Natsuko, sahabatnya.rnrnHiroko mengajarkan pembaca bahwa seorang perempuan pun mampu memiliki keberanian dan keteguhan hati untuk menjalani hidup tanpa sedikit pun rasa penyesalan. Hiroko, mungkin terlalu polos, tetapi itulah yang menjadikan angin seakan berhembus selalu ke arahnya. Hiroko mengalami dan menjalani hidupnya tanpa banyak kompromi sekalipun dianggap “melanggar” norma dan pakem yang berlaku di kehidupan masyarakat Jepang.rn
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain